Sabtu, 19 Juli 2014
Selasa, 07 Mei 2013
PELAKSANAAN KEGIATAN SELEKSI CALON ANGGOTA PASKIBRAKA MADRASAH ALIYAH KOTA JAKARTA BARAT TAHUN 2013
01.13
ppima kota jakarta barat
Jakarta. Minggu, 28 April 2013 telah terlaksananya kegiatan seleksi
calon anggota paskibraka (CAPASKA) Madrasah Aliyah Tingkat Kota Jakarta
Barat tahun 2013. yang diikuti oleh 9 madrasah Aliyah yang ada di Kota
Administrasi Jakarta Barat, yaitu: MAN 1 Jakarta, MAN 10 Jakarta, MAN 12
Jakarta, MAN 16 Jakarta, MAN 17 Jakarta, MAN 22 Jakarta, MA Annida, MA
Assidiqiah, dan MA Tazibunufus.
Pembukaan Seleksi Anggota Paskibraka Madrasah Aliyah (CAPASKA MA)
Jakarta Barat 2013 dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jakarta
Barat diwakili oleh Bapak Gunawan, S.Ag (Staff Kepala Seksi Pendidikan
Madrasah Kementerian Agama Jakarta Barat.
Tahapan-tahapan Tes yang harus dilalui oleh Calon Anggota Paskibraka
Madrasah Aliyah (CAPASKA MA) Jakarta Barat, yaitu : Tahapan Ke-I Tes
Administrasi, Tahapan Ke-II Tes Tinggi Badan & Berat Badan, Tahapan
Ke-III Tes Tulis, Tahapan Ke-IV Tes Fisik, Tahapan Ke-V Tes PBB, Tahapan
Ke-VI Tes Kesehatan, dan Tahapan terakhir Interview.
Hasil dari Seleksi Calon Anggota Paskibraka Madrasah Aliyah (CAPASKA MA)
Jakarta Barat tahun 2013 yang LULUS Berjumlah 30 Pasang Siswa.
SELAMAT KEPADA CAPASKA MA JAKARTA BARAT TAHUN 2013 YANG TELAH BERHASIL LULUS SELEKSI
Minggu, 07 April 2013
IKRAR PUTRA INDONESIA
19.02
ppima kota jakarta barat
Ucap Janji ketika Pengukuhan PASKIBRAKA
"IKRAR PUTRA INDONESIA”
"IKRAR PUTRA INDONESIA”
Aku mengaku Putra Indonesia dan berdasarkan pengakuan itu :
• Aku mengaku bahwa aku adalah makhluk Tuhan Al-Khalik Yang Maha Esa dan bersumber padanya
• Aku mengaku bertumpah darah satu. Tanah Air Indonesia
• Aku mengaku berbangsa satu. Bangsa Indonesia.
• Aku mengaku berjiwa satu. Jiwa Pancasila
• Aku mengaku berbudaya satu. Budi daya bahasa Indonesia
• Aku mengaku bernegara satu. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
• Aku mengaku bertujuan satu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sesuai dengan isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
• Aku mengaku bercara karya satu. Perjuangan besar dengan akhlak dan ikhsan menurut ridha Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan pengakuan-pengakuan ini dan demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku untuk mengamalkan semua pengakuan ini dalam karya hidupku sehari-hari.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati niatku ini dengan taufiq dan hidayah-Nya serta inayah-Nya.
Sabtu, 06 April 2013
Sejarah Paskibraka
21.28
ppima kota jakarta barat
Paskibraka kepanjangan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang bertugas mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di 3 tempat, yakni :
1.Nasional (Istana Negara).
2.Provinsi (Kantor Gubernur),( Kanwil Kementerian Agama Propinsi )
3.Tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Walikota/ Kementerian Agama Kota ), 
Dalam pelaksanaannya biasanya para anggota direkrut dengan seleksi yang cukup ketat dari siswa – siswi pelajar MA/SMA/SMK. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus
Lambang
Lambang dari organisasi paskibraka adalah bunga teratai
Tiga helai daun yang tumbuh ke atas artinya paskibra harus belajar, bekerja, dan berbakti
Tiga helai daun yang tumbuh mendatar/samping: artinya seorang pakibra harus aktif, disiplin, dan bergembira. Untuk penjelasan singkat lambing paskibra klik disini
Sejarah
Ide tercetusnya Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada pada waktu ibukota negara dipindahkan ke Yogyakarta., yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Indonesia / Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk mempersiapka pasukan pengibar benera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.
Hanya sayang sekali gagasan yang baik tersebut tidak mudah untuk direalisasikan, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebertulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.
Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.
Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soekarno, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:
Kelompok 17 / pengiring (pemandu),
Kelompok 8 / pembawa (inti),
Kelompok 45 / pengawal.
Formasi yang baru tersebut bias di artikan sebagai symbol kebangkitan kemerdekaan Negara kita, Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.
Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.
Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa MA/SMA/SMK se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.
Pada waktu itu pasukan pengibar bendera pusaka bukanlah di sebut paskibra seperti sekarng ini. Masa rentang waktu antara 1967 sampai tahun 1972 masih “Pasukan Pengerek Bendera Pusaka”. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman mengagaskan ide baru untuk pasukan pengibar bendera pusakan dengan nama Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.


